Triana dan Griya Schizofren, Kemanusiaan untuk Orang dengan Masalah Kejiwaan – Griya Schizofren adalah upaya kemanusiaan untuk orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). Griya Schizofren ini menjadi ruang kecil ini menjadi wadah sosial dan kemanusiaan bagi ODMK di Kota Solo yang diinisasi oleh Triana Rahmawati, S.Sos, M.Sos. Ibu muda kelahiran Palembang 15 Juli 1992 ini adalah sosok yang kuat dan berdedikasi untuk para penderita skizofrenia.
Lahirnya Griya Schizofren ini berawal dari keprihatinan Triana melihat ODMK dan penderita skizofrenia mendapatkan stigma buruk oleh masyarakat dan bahkan oleh keluarganya sendiri. ODMK dianggap menjadi beban masyarakat dan kadang dianggap berbahaya, sehingga merek berisiko besar dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Triana melihat bahwa stigma dan ketidaktahuan tentang kondisi seperti skizofrenia membuat banyak orang terisolasi.

Mengenal Skizofrenia
Sebagian ODMK menderita penyakit mental yang terdiri dari beberapa jenis, salah satunya adalah skizofrenia. Lantas, apa sebenarnya penyakit mental skizofrenia ini? Kata skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizo yang berarti “memisahkan” dan phrenia yang berarti “pikiran” atau “jiwa.” Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Paul Eugen Bleuler pada 24 April 1908 di Berlin.
Profesor Paul Eugen Bleuler percaya bahwa enderita skizofrenia mengalami “pemisahan” dalam proses pikirannya, sehingga pikiran, emosi, dan perilaku tak lagi terintegrasi. Dunia mereka dipenuhi benturan realitas dan imajinasi yang kadang membingungkan.
Sedangkan menurut National Institute of Mental Health (NIMH), skizofrenia adalah gangguan serius yang memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan berperilaku seseorang. Penderitanya seolah terputus dari realitas, membuat aktivitas sehari-hari menjadi terganggu atau menglami kesulitan berkomunikasi.
Skizofrenia dapat berkembang secara perlahan dan gejala awalnya sulit dikenali pada masa remaja. Gangguan mental ini jika sudah cukup berat tingkat keparahannya, dapat menimbulkan halusinasi, delusi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Berikut beberapa gejala skizofrenia yang dilansir dari Mayo Clinic:
- Delusi: keyakinan yang teguh meski tak sesuai kenyataan, misalnya merasa diawasi atau dikejar orang tanpa bukti.
- Halusinasi: melihat atau mendengar hal yang tak nyata. Beberapa contoh halusinasinya adalah mendengar suara yang tak bisa didengar orang lain.
- Percakapan dan pemikiran tidak teratur: sulit berbicara atau berpikir secara konsisten atau kadang disebut “salad kata”.
- Gejala negatif: seperti kehilangan ekspresi emosional, ritme bicara yang datar, menarik diri secara sosial, dan sulit memulai aktivitas.
Gejala yang timbul oleh ODMK yang salah satunya disebabkan oleh skizofrenia di atas membuat penderitanya berpotensi mendapat diskriminasi, pengucilan, dan stigma negatif dari masyarakat. Hal inilah yang membuat ODMK sulit berkembang karena tidak mendapatkan dukungan oleh keluarga dan lingkungan sekitar.
Mendirikan Griya Schizofren

Saat masih berkuliah pada tahun 2012, Triana mulai melihat kerapuhan orang-orang di sekitarnya yang berjuang melawan soal kejiwaan. Triana duduk termenung mengenang masa awal kuliahnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Ia aktif di Program Kreativitas Mahasiswa-Pengabdian Masyarakat (PKM-PM), salah satunya program volunter pendampingan ODMK di Griya PMI Peduli.
Kegiatan pendampingan ini sebenarnya sederhana, Triana dan teman-teman-temannya menemani ODMK dan mengajaknya bercerita, menyanyi, bermain, atau sekadar menjadi teman yang mendengarkan. Tujuan kegiatan ini adalah membangun interaksi sosial dengan penderita ODMK dengan penuh rasa kemanusiaan.
Selama proses pendampingan, Triana menyaksikan secara langsung banyak orang bergumul dengan gangguan mental tanpa ada tempat dan perhatian yang layak bagi mereka. Tak jarang Triana melihat perlakuan diskriminatif yang dialami oleh ODMK.
Perlakuan masyarakat yang kurang memanusiakan ODMK membuat Triana prihatin. Rasa empati itu tumbuh dalam benak menjadi impian: menciptakan ruang ramah untuk mereka yang sering kali “dilupakan”. Berkat dorongan itu, Triana bersama Febrianti Dwi Lestari dan Wulandari mendirikan Griya Schizofren untuk menemani ODMK.
Griya Schizofren diharapkan menjadi wadah atau ruang kemanusiaan ODMK untuk menjalani kehidupan normal tanpa ada diskriminasi dan stigma negatif yang justru memperparah penyakit mentalnya. Nama Griya Schizofren memiliki filosofi:
- Griya: rumah
- Sc — Social: soal kepedulian sosial
- Hi — Humanity: membangun kemanusiaan
- Fren — Friendly: menjunjung persahabatan, bukan sekadar bantuan
Tujuan utama Triana bersama teman-temannya mendirikan Griya Schizofren adalah mematahkan stigma masyarakat mengenai penderita ODMK melalui berbagai kegiatan yang menarik dan bernilai ekonomi. Triana ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa ODMK bukan sosok yang aneh atau berbeda dengan manusia pada umumnya. ODMK hanya memiliki standar keunikan tersendiri yang perlu dimengerti, didukung, dan dirangkul.
Griya Schizofren juga menggelar kegiatan yang fokus pada kesehatan jasmani seperti berbagi buah, olahraga bersama, serta edukasi kesehatan mental dan jiwa. Griya Schizofren juga menjembatani interaksi sosial penderita ODMK dengan masyarakat agar stigma berkurang.
Selain itu, Griya Schizofren juga mengajak penderita ODMK berkarya menuju kemandirian dengan menggambar dan membuat karya sebagai salah satu cara terapi dan mengekspresikan diri.

Triana juga mengajak ODMK untuk mandiri secara ekonomi dengan membuat berbagai produk yang memiliki nilai ekonomo atau dapat dijual. Produk tersebut berupa barang yang fungsional dan bermanfaat, seperti totte bag dan sebagainya melalui SOLVE (Souvenir and Love) by Givo. Keuntungan penjualan produk ini digunakan untuk membantu membiayai pengobatan ODMK.
Tak hanya soal kemandirian, program SOLVE by Givo ini juga dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri penderita ODMK, serta semangat untuk memanfaatkan peluang berkontribusi secara ekonomi. Ini juga membuktikan pada masyarakat bahwa ODMK dapat berkarya dan mandiri secara ekonomi, sehingga mengikis stigma ‘beban masyarakat’.
Menerima Penghargaan SATU Indonesia Awards dari Astra

Kiprah dan perjuangan Triana Rahmawati membersamai ODMK dan membuat hidup mereka lebih bermakna bukanlah hal yang mudah. Ia sempat down dan hampir putus asa. Keluh kesahnya ia ceritakan ke sang suami dan cerita tersebut malah didaftarkan ke ajang SATU Indonesia Awards.
Kisah perjuangan dan pengabdian Triana melalui Griya Schizofren ini sukses mengantarkannya menerima penghargaan SATU Indonesia Awards dari Astra pada tahun 2017 untuk kategori individu bidang kesehatan. Dukungan berupa uang dari apresiasi ini digunakan untuk melanjutkan Griya Schizofren agar dampaknya dapat dirasakan oleh ODMK dan masyarakat.
Perjuangan Triana Rahmawati mendirikan Griya Schizofren adalah kisah tentang keberanian, empati, dan keteguhan hati dalam menghadapi stigma yang membelenggu ODMK. Triana menjadi sosok penggerak perubahan yang tak hanya memberi ruang aman bagi ODMK, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian dan pengakuan sosial.
Melalui Griya Schizofren dan program SOLVE by Givo, ia membuktikan bahwa inklusi bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang bisa mengubah hidup seseorang. Penghargaan SATU Indonesia Awards merupakan alah satu penanda dari dampak besar yang telah ia torehkan.


