Alasan Untuk Tidak Menggunakan Linux

Perkembangan distro linux cukup pesat. Peningkatan fitur dan kestabilan selalu mengiringi rilis terbaru sebuah distro. Open source, gratis, fleksibel dan memiliki banyak fungsi dan dukungan perangkat lunak yang banyak, serta support komunitas linux di seluruh dunia. Meski banyak memiliki kelebihan, tapi mengapa hanya sedikit pengguna komputer yang menggunakan OS pinguin ini sebagai OS utamanya? Untuk desktop, 90% menggunakan windows, 6% macintosh dan sisanya linux. Artikel ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan linux atau tujuan provokasi lainya, saya hanya mengungkapkan beberapa alasan orang-orang yang enggan menggunakan linux. Saya sendiri suka dan menggunakan 2 distro linux. Ada beberapa alasan yang membuat pengguna komputer enggan menggunakan linux sebagai OS utamanya. Alasan-alasan yang saya jabarkan di artikel ini bersumber dari teman, forum dan beberapa situs yang mengulas tentang OS linux. Berikut alasan yang kerap dilontarkan para pengguna komputer.

Pengoperasian Sulit?

Beberapa orang yang terbiasa menggunakan windows mengatakan bahwa linux sulit dalam pengoperasian. Konfigurasi sistem yang membingungkan dan beberapa distro masih menggunakan basis text untuk konfigurasi sistem yang vital. Selain itu, jika ingin mengbah seting dalam linux, harus menggunakan super user yang kadang membingungkan pengguna yang terbiasa dengan windows. Menurut saya, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Saya termasuk ‘newbie’ di linux dan saya tidak merasa kesulitan untuk pengoprasian sehari-hari. Linux dengan GUI pengoprasianya sudah sama mudahnya dengan windows, hanya perlu pembiasaan saja. Distro seperti Mandriva, PCLinuxOS, ubuntu adalah distro yang menurut saya pengoprasianya sama mudahnya dengan windows.

Banyak Distro, Bikin Bingung?

Seorang pengguna pemula mengatakan bahwa dirinya enggan menggunakan linux karena terlalu banyak jenisnya (distro) sehingga membuatnya bingung. Ia lebih memilih menggunakan OS lain yang hanya ada 1 jenis dengan beberapa edisi (seperti windows). Menurut pendapat saya, keragaman jenis distro linux adalah salah satu kelebihan linux. Karena pengguna dapat memilih distro linux sesuai selera atau bahkan membuat distro sendiri agar sesuai dengan selera.

Tidak Ada Game Linux Sekualitas Game Windows

Para gamer enggan ‘menyentuh’ sistem oprasi linux, karena semua game-game komersial dan populer hanya mendukung windows. Developer game tidak melirik linux karena linux dipandang sulit menghasilkan profit selain itu, pengguna linux juga tak sebanyak pengguna windows. Menurut saya, memang benar. Tidak ada game komersial yang dirilis untuk OS linux. Sebenarnya ada cara untuk memainkan game windows di linux, yaitu menggunakan Cedega, namun software Cedega ini berbayar. Kalau hanya untuk game ringan, saya bisa menggunakan wine agar dapat memainkanya. Saya dapat memainkan GTA:San Andreas, GTA III, GTA:Vice City dan Hitman di linux menggunakan wine, lumayanlah. Jika windows memiliki API DirectX yang cukup terkenal di dunia game, linux dapat menggunakan OpenGL, hanya saja belum ada developer game untuk linux yang menghasilkan game secanggih game windows. Ada satu game linux yang menurut saya cukup menarik, yaitu Alien Arena 2008.


Minim Dukungan Hardware dan Driver

Sebagian orang yang enggan menggunakan linux karena minimnya dukungan hardware serta driver untuk hardware tertentu. Sebenarnya tidak juga, saat ini produsen-produsen hardware kelas dunia mulai mendukung linux dan ke depannya mungkin masalah klasik ini akan semakin diminimalisir. Memang ada beberapa hardware yang tidak terdeteksi atau tidak ada driver untuk linux, contoh tv tuner bawaan laptop, modem usb, lan, infrared adapter dan beberapa lainya. Saya yakin, di masa mendatang dukungan terhadap linux akan semakin banyak seiring peningkatan jumlah pengguna linux.

Software Yang Digunakan Tidak Tersedia di Linux

Ini alasan yang cukup sering dilontarkan pengguna komputer yang menggunakan komputer untuk bekerja. Software di linux sebenarnya cukup lengkap, hanya saja menurut beberapa pengguna, software di linux belum mampu menandingi software komersial windows. Seorang webmaster mengatakan, dirinya belum pernah menemukan software sehebat dreamweaver di linux. Ada pula editor foto yang terbiasa menggunakan photoshop kesulitan dalam mengoprasikan GIMP. Seorang pemilik studio pernah menanyakan, adakah software editing video yang kemampuanya menyamai software editing video windows di linux? Menurut saya, hal ini terkait dengan dukungan produsen software terhadap linux. Macintosh yang berasal dari BSD dan masih sepupu linux dapat menjalankan software-software adobe karena dukungan adobe terhadap OS Apple ini. Saya sendiri menggunakan wine untuk menjalankan software-software windows meski beberapa diantaranya tidak berjalan sempurna. Saya tidak dapat berkomentar banyak soal alasan satu ini karena keterbatasan pengetahuan saya.

Tidak Ada Waktu Untuk Belajar

Pepatah mengatakan, ‘waktu adalah uang’, sebagian dari pengguna yang enggan menggunakan linux kerena keterbatasan waktu yang dimiliki untuk mempelajari hal yang baru. Bisa dimaklumi, para eksekutif muda dan orang super sibuk tidak akan sempat memepelajari OS linux. Mereka cenderung memilih yang sudah ‘terbiasa’ dan mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Contoh kasus, seorang editor foto yang telah menguasai danterbiasa dengan photoshop mengerjakan pekerjaanya dengan GIMP, mau tidak mau editor tersebut harus mempelajari pengoprasian GIMP untuk mendapat hasil maksimal dan ini memerlukan waktu yang cukup banyak. Belum lagi jika mengalami masalah dengan linux, mungkin harus meluangkan waktu untuk mampir ke forum-forum komunitas. Solusi yang paling tepat adalah mengikuti training/kursus linux dan software-software opensource yang kini sudah milai banyak. Sedangkan saya sendiri menganut pepatah ‘hidup untuk belajar’ dan saya bukan seorang yang sibuk, sehingga hal ini tidak begitu bermasalah bagi saya.

Semua ini adalah alsan-alasan yang paling sering dilontarkan para pengguna komputer yang enggan menggunakan linux. Sebenarnya masih banyak alasan-alasan lain namun hanya ini yang menurut saya masuk akal. Ada pula para maniak/fanatik OS microsoft berinisial ‘BK’ sampai-sampai menganggap Internet Explorer sebagai ‘the best browser’ dan ‘total domination OS microsoft’ yang dipajang disitusnya, menurut saya tidak masuk akal. Alangkah baiknya kita bersifat terbuka, mencoba sesuatu yang baru serta menilai obyektif tentang kelebihan dan kekuranganya. Saya sendiri lebih memilih terus berusaha mempelajari linux. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pengembang linux dan kita semua.


11 Comments

  1. agust June 22, 2009
    • tuxlin June 23, 2009
  2. Setiawan May 18, 2010
    • tuxlin May 18, 2010
  3. lian October 21, 2011
  4. Kang Soerja December 17, 2011
    • tuxlin December 19, 2011
  5. fae July 12, 2012
  6. Andi Purnama December 22, 2013
  7. Lukmanul Hakim April 10, 2016
    • Tuxlin April 11, 2016

Add Comment

*