Tuxlin Seorang blogger yang gemar mengikuti perkembangan teknologi dan gadget, reviewer amatir, dan suka traveling.Pertanyaan? Silakan Komen. Kontak saya melalui Twitter dengan ID: @dityatuxlin atau email: dityatuxlin@gmail.com.

Dilemma Software Bajakan VS Original

1 min read

Dilemma Software Bajakan VS Original 4

Software bajakan sangat merajalela di Indonesia, betapa tidak, dengan harga murah dan terjangkau bagi semua kalangan dapat menikmati kecanggihan software komersial. Meskipun UU HaKI telah lama ada, namun tidak dapat menekan angka pembajakan software secara signifikan. Pembajakan software tidak henya di kalangan pengguna rumahan, tetapi juga di beberapa perusahaan, sekolah dan instansi pemerintah. Pihak yang berwajib pun kini sering mengadakan razia software bajakan di perusahaan-perusahaan, warnet dll.

Populernya software bajakan cukup beralasan, karena harga software original cukup mahal, lihat saja OS Windows XP Home Edition seharga 800 ribuan, Microsoft Office 1,7 juta-4jutaan (tergantung versi dan edisi). Bagi pengguna komputer kalangan menengah atas mungkin tidak masalah dengan angka tersebut diatas, tapi bagi kalangan bawah??? (seperti saya.. hiks…!). Di Indonesia, sebagian besar penduduk adalah kalangan menengah-bawah, mereka lebih memilih menggunakan uang mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup daripada membeli sebuah lisensi software asli. Ini bukan kerena tidak menghargai Hak Kekayaan Intelektual, tapi lebih mengarah peda pemenuhan kebutuhan.
Apakah bisa diberantas? Bisa! Tapi cukup sulit. Di bidang pendidikan, kurikulum beberapa sekolah untuk mata pelajaran TIK menunjuk pada softwre tertentu, ini akan menanamkan kergantungan pada software yang ditunjuk tadi. Di sekolah-sekolah (SD, SMP, SMA) dalam kurikulumnya menunjuk pada software-software komersial, contoh, microsoft office, corel draw dll. Alangkah baiknya dalam kurikulum tersebut, microsoft office diganti menjadi aplikasi office? Yang nantinya dapat bebas memilih software office yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tapi yang dipermasalahkan adalah lisensi yang digunakan sekolah tersebut, asli atau bajakan? Kalau bajakan, tentu secara tidak langsung sekolah juga mengajarkan pembajakan software kan? Di perguruan tinggi sebagian sudah tidak menunjuk pada softwre yang spesifik, bahkan ada beberapa perguruan tinggi swasta dan negeri memilih migrasi ke open source.
Solusinya?? Ada dua pilihan. Pertama, membeli lisensi software. Kedua, beralih ke freeware dan open source. Pilihan pertama cukup memberatkan bagi kalangan menengah bawah, namun bagi yang mampu, bukan masalah yang serius. Saya lebih menganjurkan pada pilihan yang kedua, yaitu migrasi ke freeware dan open source, selain lebih hemat, software open source dapat di-customize sesuai kebutuhan. Penggunaan software open source cukup mudah, hanya perlu sedikit pembiasaan saja. Mencoba menggunakan open source software? Mengapa tidak? Mari kita bersama-sama mengurangi angka pembajakan dengan menggunakan software open source dan meninggalkan software bajakan. GUNAKAN SOFTWARE ASLI DAN BERLISENSI! (kalo ada biaya… hehehe….!)


Artikel Terkait


Tuxlin Seorang blogger yang gemar mengikuti perkembangan teknologi dan gadget, reviewer amatir, dan suka traveling.Pertanyaan? Silakan Komen. Kontak saya melalui Twitter dengan ID: @dityatuxlin atau email: dityatuxlin@gmail.com.

Tagr: Ngetag File MP3 Gak Pake Lama

Halo Pembaca!!! Pernah gak sih ngalamin habis download lagu MP3 trus di pindah ke hape ato laptop trus dimainin ke player macam Winamp ato...
Tuxlin
2 min read

Adium, Software Chatting Komplit Buat Mac OSX

Pengguna Mac OSX tentu tidak asing lagi dengan software chatting paling populer di Mac OSX, Adium yang mendukung berbagai protokol instant message seperti Yahoo Messenger, Windows Live, AIM dan sebagainya. Software...
Tuxlin
1 min read

Minitunes, Music Player Enteng dan Keren

Tampang Minitunes Halo Pembaca! Iseng-iseng setelah install Linux Mint 12 “Lisa”, saya mampir ke software manager dan nemu music player keren, Minitunes. Langsung saja...
Tuxlin
1 min read

5 Replies to “Dilemma Software Bajakan VS Original”

  1. Iya bener tu mas,.. cari ynag berlisensi biar barokah..
    Tapi bagi kalangan seperti saya.. (HIks,hiks,..) Kan mahal…
    Menurut I kl mau pake bajakna ya pakai aja, tp ingat jangan disebarluaskan,. (jgan memperbanyak dosa…)
    Trus doain yang buat tu software supaya sehat selalu coz kita kan dah pakai produknya…??? heheheehe… n_n

  2. @arieee
    nah iya makanya mahasiswa pas2an sperti saya terpaksa pake bajakan…
    tp malah ta bagi2 ma temen yang sama2 gak mampu n membutuhkan (dosa ato amal yaw?) 😀

  3. Nampaknya sosialisasi penggunaan open source yang dulu pernah di adakan terutama buat pendidikan masih jauh dari kata berhasil.
    Pengguna komputer kebanyakan tidak mau beralih dari jalur mainstream yang justru butuh banyak “dana”.
    Dan makin parahnya software bajakan lebih mudah didapat daripada yang ori.

    1. Itu dia pak masalahnya… Beralih ke open source memang sulit, tetapi bisa dicapai pak… Saya sendiri sekatrang masih berusaha membiasakan diri dengan aplikasi open source 🙂

  4. wah yang bajakan dulu deh. ga nahan lisensi harganya gila-gilaan. gaji sebulana aja ga cukup :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *